Ahlan wa Sahlan

Bagi para pencari video porno berformat 3gp atau apapun, gambar bugil, atau apa saja yang berbau mesum, seks dan narkoba, jangan harap bisa menemukannya di blog ini. Artikel di blog ini adalah curahan hati kaum lemah yang selalu dipinggirkan oleh hukum yang berlandaskan materi semata.

Jumat, 23 Desember 2011

That's my buddy...

Aku punya kawan. Lebih dekat dari saudara. Berperawakan tinggi, tegap tapi nggak mau dibilang mirip tentara. Punya pola pikir yang cenderung cerdik hampir ke licik tapi tidak picik, dibalut gaya hidupnyanya yang serba sederhana. Dia lebih memilih fungsi daripada gengsi. Misalnya, dia lebih mempertahankan hape baheulaknya yang besarnya hampir ngalahin gagang telpon umum daripada beli yang baru nan canggih. "Buat apa beli yang baru, yang ini masih bisa nelpon, sms-an, plus kalau ngelempar anjing galak bisa langsung semaput", kilahnya. Atau kalau dikasi uang Rp100 ribu buat beli sepatu, pasti yang dibelinya sepatu murah yang bisa dapat 2 pasang atau bahkan 3 pasang (kalau ada penjual yang rela rugi).

Nggak pernah sekalipun kudengar dia membanggakan diri sendiri. Mungkin karena memang nggak ada yang bisa dibanggakannya (dari segi materi). But, he doesnt care about it (makasi google, jadi bisa bahasa inggris). Paling nggak suka sama ke-formal-an. Apalagi sama gaya hidup kaum bourjuis yang mubazir.

Kamis, 22 Desember 2011

Politik... Okhhh... Politik

Sebuah partai politik adalah organisasi politik yang menjalani ideologi tertentu atau dibentuk dengan tujuan khusus. Definisi lainnya adalah kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik - (biasanya) dengan cara konstitusionil - untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. (1)

Suasana perpolitikan negeri ini ternyata sudah menular ke level yang lebih rendah, yaitu perusahaan. Banyak karyawan yang berpolitik praktis, bahkan malah ada yang buat parpol di perusahaannya. Berikut hasil pengamatan saya tentang beberapa parpol yang biasanya berdiri di setiap perusahaan.

1. Partai Obral Janji (POJ)
Partai ini termasuk kedalam partai elite, karena memang anggota partai terdiri dari para atasan yang suka mengobral janji layaknya politikus asli yang lagi kampanye.

2. Partai Penjilat Bersama (PPB)
Partai kedua terbesar ini sebenarnya adalah hasil peleburan beberapa partai yang mempunyai ideologi yang sama, seperti Partai Angkat Telor (PAT), Partai Tukang Ngadu (PTN), Partai Iri Dengki (PID) dan Partai Lidah Panjang (PLP). Moto partai ini merupakan modifikasi dari Hukum Ekonomi, yaitu bekerja minimal tapi jabatan maksimal. Tapi biasanya, internal partai sarat dengan persaingan gara-gara urusan jilat menjilat.

Kisah Sang Pecinta Alam.... (bukan Alam Mbah Dukun)

Di suatu malam yang dingin dan diiringi gelegar halilintar yang terus menyambung, aku membongkar sebuah akun fesbuk milik seorang teman. Kulihat satu persatu album fotonya. Terlihat olehku foto-fotonya saat mendaki gunung menuruni lembah layaknya Ninja Hattori. "Wuihhhh... Mantap kali bah...," pikirku. "Masih aktif aja wak ini," pikirku lagi yang kali ini disertai perasaan iri.

Ingatanku langsung kembali ke masa lalu, saat dimana aku masih muda dan energik untuk menaklukkan puncak gunung Sibayak hingga Sinabung, menyusuri hutan Sibolangit hingga Bukit Lawang. Bersama rekan-rekan seperjuangan. Dari masa SMA hingga kuliah dan berakhir ketikaku melepas masa lajang.

----------------

Aku senyum-senyum sendiri ketika ingat masa-masa kemaruk camping di Bukit Lawang. Setiap liburan, pasti selalu dihabiskan membelah kesunyian Hutan Leuser. Merasakan segarnya udara yang memang masih bersih, menyelam di dinginnya aliran sungai, hingga menyusuri hutan guna mencari tempat di ujung sungai yang katanya ada bule mandi bugil (walaupun berhasil mengintip, tapi sialnya ketahuan guide dan langsung diancam pakai parang supaya jangan pernah memasuki wilayah itu lagi dengan alasan sang bule nggak suka 'daerah kekuasaanya' dimasuki 'warga asing').

Alhasil, kami pun menjelajah ke bawah. Tempat tujuan berikutnya adalah camping ground yang biasanya dihuni banyak cewek. Tak jarang kami dapat konsumsi gratis hasil dari menggombal. Lumayanlah buat ganjal perut yang dulu masih six pack. Daripada makan hasil masakan koki kami, nasi campur mie yang dimasak sekaligus guna menghemat waktu dan tenaga. Karena memang kalau camping, kami tak pernah mengajak seorang cewek pun. Takut terjadi hal-hal yang diinginkan.

Teringat juga saat menikmati malam yang syahdu, ditemani tebaran bintang dan cahaya rembulan yang lembut membelah gelapnya malam. Diiringi petikan gitar, didepan api unggun menyanyi apa adanya, bersenda gurau. Pikiran serasa terbebas dari hiruk pikuk dan masalah. Walau ada peristiwa aneh bin ajaib. Pas tengah malam, ada suara kumpulan orang yang sedang berdzikir. Padahal saat itu hanya ada kami yang camping disitu. Asoy geboylah pokoke.

Bangsaku, Bangsa yang Latah

Abdurrahman Wahid (yang akrab dipanggil Gus Dur) adalah Presiden Republik Indonesia yang keempat. Beliau menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Masa kepresidenan yang dimulai pada 20 Oktober 1999 berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli
2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Di saat kepemimpinan Gus Dur, banyak yang mencibir hanya karena fisik Gus Dur yang tak sempurna. Banyak yang malu punya presiden buta. Apalagi Gus Dur sering melontarkan guyonan khasnya plus kebijakannya yang sering menuai demo. Dari membuka hubungan dengan Israel hingga membubarkan DPR. Gus Dur seakan jadi musuh no.1 bangsa ini. Beliau pun harus rela melepaskan kursi kepresidenan dan digantikan oleh Megawati.

Rabu, 30 Desember 2009, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Gus Dur meninggal di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta akibat beberapa komplikasi penyakitnya. Gus Dur yang semasa hidupnya sering menerima hujatan, ketika berpulang malah mendapat segudang pujian. Malah ada yang mengusulkan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan, walaupun ujung-ujungnya, sekelompok orang yang
mengusulkan itu punya maksud tertentu.

Kisah Gus Dur hanya satu dari beberapa kisah yang menunjukkan betapa plin-plannya bangsa ini. Ketika ada satu kelompok yang benci pada seorang tokoh, kelompok lain pun ramai-ramai ikutan membenci. Walau mereka tak tahu dari segi mana mereka mengambil sudut pandang.

(Mana) Madu dan (Mana) Racun...

Belum seminggu aku beli sebotol madu dari seorang teman istriku yang dengan sedikit beriklan dia bilang madunya 100% asli dengan harga lumayan miring. Karena rekomendasi dari sang teman yang mungkin juga diimingi komisi, istriku membelinya. Tepat kemarin sore, di tv ada acara yang berisi tentang madu. Dari khasiat madu (asli) yang tak perlu dipertanyakan lagi, cara membuat madu (yang sudah pasti nggak asli lagi), hingga cara membedakan yang asli dan palsu.

Kalau dahulu, untuk mengetahui madu palsu hanya dengan cara memberikan madu ke semut, memasukkannya ke lemari pendingin atau dengan menceplokkan sebutir telur. Kalau madu di'keroyok' semut, membeku dan telur yang diceplok tidak masak-- berarti madunya palsu. Tapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kelemahan madu palsu bisa di tutupi dengan menambahkan tepung kanji (supaya semut nggak suka), glukosa (agar tak membeku di lemari es) dan cuka (supaya telurnya bisa masak).

Ada virus, tentu juga ada anti virus. Bagaimanapun canggihnya si pembuat madu palsu menipu, masih juga ada kelemahan terhadap buatannya itu. Yaitu dengan cara dipanaskan. Jika dipanaskan hingga mendidih, dan setelah didinginkan si madu ternyata menggumpal keras, madu itu sah mendapat titel MADU PALSU. Dan setelah di uji lab, madu yang kubeli dari teman istriku itu ternyata madu palsu.